Belajar dari Keimanan Tetangga

That’s real COURAGE! I envy him, not for his religion but envy on how he keeps his belief. Being able to keep such faith when no one sees how he sees. Di akhir film, mereka yang paling keras berusaha nge-goyang keyakinan doi justru netesin air mata buat berterima kasih.”

***

Hacksaw-ridge-uk-poster-2.jpg

Tulisan ini terinspirasi dari hacksaw ridge, film yang baru aja saya tonton malam ini. Jika kalian menyempatkan diri buat nonton film ini, pastikan nonton sampe habis ya… akan ada beberapa frame wawancara asli dengan si tokoh utama… yess betul… film ini terinspirasi dari kisah nyata!

Saya meyakini lakum dinukum waliyadin, untukmu agamamu untukku agamaku, tetapi hari ini saya iri dengan keyakinan si prajurit terhadap agamanya karena jika saya ditempatkan pada posisi yang sama, saya yakin tidak akan punya kekuatan plus keberanian untuk mengambil sikap serupa. Mending langsung pulang nandur jagung di rumah kalau udah di-rijek dan dihina begitu…

Gilak aja! Perang gak bawa senjata, gak mau ngelanggar 10 perintah Tuhan katanya. Gak mau pergi perang di hari Sabbath. Dipukulin sampe gak berbentuk tetep bertahan dan gak nunjuk orang-orang yang mukulin. Dia marah koq, tapi gak nyalahin orang lain atau Tuhannya. Tetap yakin pada hal yang dia yakini… orang tua-nya sampe tunangan tercinta-pun gak ngaruh.

That’s real COURAGE! I envy him, not for his religion but envy on how he keeps his belief. Being able to keep such faith when no one sees how he sees. Di akhir film, mereka yang paling keras berusaha nge-goyang keyakinan doi justru netesin air mata buat berterima kasih.

Saya gak sanggup memaafkan seperti sang prajurit, makanya saya iri… pengen bisa begitu? Bangeeett, makanya masih perlu banyak baca, pengen ketemu orang yang beda-beda supaya gak punya satu sudut pandang doank!

Yang kece adalah keberanian dan keteguhan si prajurit memenangkan hati semua orang. Satu orang mengubah keyakinan segambreng orang. Satu kompi prajurit ‘telat’ nyerbu buat nunggu si prajurit doa buat mereka sebelum berangkat perang. Kindness and humility that can touch the heart and break people’s belief… koq justru kita yang lupa yaaaa…

Gak sengaja lihat postingan salah satu teman Facebook yang isinya pesan yang disebarkan untuk grup tim yang meluangkan waktu melipir ke pusat Jakarta kemarin. Singkat cerita, pesan yang paling saya ingat adalah, ‘akan ada orang-orang tertentu yang disisipkan dalam rombongan, klo tertangkap jangan dipukuli tapi dibikin malu lewat media’.

Duh, bukannya dimaafkan, dilindungi supaya gak dipukuli yang lain atau coba kasih nasi bungkus gitu karena dia pasti cape en laper karena dah jadi penyusup seharian. Eh ini malah kita punya rencana berjamaah buat permaluin aja kalo sampe ketangkep.

Teman, pada saat kita siap mempermalukan alias buka aib orang lain, memang kita sudah siap dapat perlakuan serupa nantinya? Mempermalukan dia yang tidak tahu bukannya lebih jahat? Seperti menyalahkan kuda karena dia tidak bisa terbang.

Kenapa kita gak tunjukkan kebaikan… karena itulah yang orang tua, agama dan rasul kita ajarkan [gak usah kritik… ini buat saya sendiri… karena agama saya warisan dari orang tua; masih perlu banyak belajar *nyengir]. Ini saya abis gugling sosok bernama Tsumamah Bin Itsal.

Tepuk pundak mereka yang bersalah, ingatkan, ajarkan. Jangan dilakukan secara terbuka, ehm.. kalau bisa… Dan ketika ada orang yang meminta maaf, jangan malah diejek atau lainnya. Bukankah kita seharusnya merangkul dan mengajarkan dia yang tidak tahu? Jangan berburuk sangka dengan menuduh suatu permintaan maaf dilakukan dengan tulus atau tidak. Baik sangka bukannya lebih baik?

Yang kadang kita lupa adalah orang sudah mengakui kesalahannya dan siap menerima hukumanannya dengan ikhlas lebih mulia daripada yang ngejek… karena bisa jadi Allah memaafkan. Enak banget, begitu ya? Tapi enak-kan kalau semua kesalahan kita dimaafkan Sang Khalik pada saat kita meminta maaf dengan sebenar-benarnya?

Beruntunglah mereka yang segala kesalahannya dibayar sebelum kematian, maka Insya Allah segala kebaikan menyertainya setelah kematian. Tapi karena yang mati tidak pernah hidup lagi, banyak diantara kita yang sibuk menghakimi kesalahan orang lain, seolah tidak yakin ada hidup setelah mati.

Kenapa saya tidak mengupas tuntas soal kesalahan si koko… karena kita juga salah pada saat kita tidak memaafkan dan justru malah mengejek. Karena kita salah berburuk sangka terhadap itikad baik orang yang meminta maaf. Karena kita bersalah pada saat kita tidak merangkul dan mengajarkan. Karena kita menuntut keadilan di bumi seolah kita tidak yakin pada keadilan yang lebih agung. Karena saya terlalu sibuk mengurutkan kesalahan kita sendiri dan kurang pandai menjelaskan bahwa menghitung kesalahan sendiri lebih baik daripada menuliskan daftar panjang kesalahan orang lain.

Belakangan kita terlalu sibuk menjadi hakim atau mempermalukan orang lain. Yuk pakai analogi paling sederhana.

Pernah jadi pengurus kelas pas sekolah dulu? Susah kan? Kalau terlalu baik dibilang sok cari muka, lapor yang salah ke guru dibilang sok bener. Selalu adaaa aja yang gak puas. Padahal itu cuma puluhan orang.

Bayangin jadi pemimpin jutaan orang. Gak bisa ya kita jadi orang yang ikut membantu membenarkan hal-hal kecil disekeliling kita tanpa terlihat gituh… tapi ah nanti gak kelihatan orang banyak ya amalnya… males yah?!

Negeri ini unik justru karena keragamannya, karena perbedaannya. Hayoo… baru kemaren kalian posting soal sumpah pemuda.

Apa yang saya tuliskan ini murni merupakan pendapat subjektif saya dan tidak mewakili umat Islam, karena masing-masing dari kita bisa jadi memiliki sudut pandang dan pemahaman yang berbeda. Semoga perbedaan pandangan yang ada bisa menjadi titik awal bagi kita untuk mempertanyakan segala hal dan menjadi selangkah lebih dekat kepada kebaikan — belom sampe loh ya… baru selangkah lebih dekat.

Oiyaah… last note buat Om Mel [Gibson]! Efek Hollywood-nya rada lebay sih tapi pesen moralnya kece badai!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s