My Equilibrium

Not a while ago, a friend asked me to translate materials on perception. As I recalled, one’s perception is based on experience and things they encountered in life. In the end, everything we collect and perceived from life what made us as we are today. So, don’t blame the arrogant, pessimistic, enthusiast, optimistic or dreamers for being as they are. 

I remembered a question on what have I learned so far. A friend also asked me to shared new stories. “Come on, I want to hear everything,” she asked me the other day. She always has been my finest listener. However, I lost words. There were so many things to share but I just realized I have lost my words.

Itu yang terjadi pada saya. Padahal banyak sekali yang ingin saya tumpahkan, terlebih lewat tulisan, berhubung banyak hal-hal baru yang saya pahami belakangan.

To either understand or misunderstand one’s thought through writings. Seperti kata Confucius, “Dunia akan mengerti pemikiran saya melalui tulisan-tulisan saya  tetapi bisa juga salah paham terhadap tulisan-tulisan saya.” Belum lama ini saya menjumpai salah satu tokoh terbesar Negeri Tirai Bambu itu lewat film berjudul Confucius. “Great movie,” I must say.

Setiap individu punya cara yang berbeda untuk bisa dimengerti. Yah, cara Confucius adalah lewat tulisan. Malahan, bukankah kita menghabiskan banyak waktu berusaha memahami orang-orang yang penting dalam hidup kita. Empati, mungkin itu yang dibutuhkan. Tapi sayang tidak semua orang punya kelebihan yang satu itu.

Kembali pada persepsi yang saya sebutkan diatas. Mereka yang punya empati mampu melihat, malah ada yang sampe bisa merasakan, hal-hal dari sudut pandang individu lainnya. Nah, untuk bisa memahami orang lain kita dituntut untuk bisa melihat dari sudut pandang orang tersebut. Sekali lagi, bukan hal ‘murah dan mudah.’

Gak murah karena menuntut pembayaran waktu yang tidak sedikit. Gak mudah karena siapa yang bisa melepas egoisme meski sebentar. Wajarlah jika banyak yang sering melontarkan kalimat, ‘I don’t care’ atau ‘peduli amat.’

Anehnya, setiap orang maunya dimengerti [lol].

Sang Khalik memang Maha Sempurna. Selalu ada berusaha mengerti dan maunya dimengerti. Setelah kesulitan pasti akan ada kemudahan. Keberhasilan kerap muncul setelah atau sebelum kegagalan. Semua bergiliran meski tidak ada yang bisa memperkirakan kapan akan terjadi. Equilibrium, suatu kondisi seimbang.

Nah, buat mereka yang merasa selalu ‘mengerti,’ saya akan mengutip, “bersabarlah akan ketentuan Tuhanmu, sesungguhnya engkau dalam pengawasan kami.” [maaf gak tuntas ngutipnya].

Semua yang diupayakan pasti akan terwujud. Karena setiap kerja keras pasti akan terbayar meski datang secara perlahan. Yakinlah 20 tahun dari sekarang kamu akan mensyukuri semua kesulitan, kesusahan dan kerja keras hari ini dan kemarin.

Mereka yang sudah menyandangi dunia-dunia yang berbeda dituntut untuk punya persepsi yang luas. Kesempatan bertemu dengan budaya dan pemikiran-pemikiran yang berbeda tidak milik semua orang. Curilah kebijaksanaan negeri-negeri timur dan persepsi dunia barat yang melihat segala sesuatu diluar konteks. Bukan sekedar meniru keangkuhan barat dan menjadikan kita picik.

“Exploring different perception would help to understand the arrogant, pessimistic, enthusiast, optimistic or dreamers. Just don’t expect it to happen at once.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s