Tiwul oh tiwul…

Bukan hal yang mengherankan jika selama beberapa hari kedepan tiwul akan menjadi salah satu topik yang ramai dibahas. Mulai dari bagaimana seharusnya tehnik pembuatan yang benar hingga tingkat asupan gizi makanan berbahan dasar ketela itu. Lucu, sebab meskipun dibuat dengan teknik yang benar, tiwul tidak akan menyuguhkan kandungan gizi yang cukup.

Kasus meninggalnya enam orang bersaudara asal Jepara merupakan pemicunya. Tidak heran jika kedua orang tua dari enam bersaudara itu langsung mengalami depresi. Meskipun proses penyelidikan masih digelar, namun kuat dugaan bahwa keenam anak pasangan Jamhadi dan Siti Sunayah itu meninggal keracunan setelah mengkonsumsi tiwul buatan Siti.

Nasi sudah menjadi bubur. Setelah insiden ini mungkin Jamhadi tidak akan melangkahkan kaki jauh-jauh hingga kota gudeg untuk menafkahi keluarganya. Seperti diberitakan, saat insiden, sang bapak tengah membanting tulang sebagai penjahit di Jogya.

Lalu, siapa yang bisa menjamin kasus serupa tidak akan terulang? Pemerintah atau masyarakat? Siapa yang bisa menjawab dan berani melontarkan tuduhan pertama. Karena sebelum melemparkan tuduhan, pastikan anda tidak pernah membuang sebutir nasi pun. Pastikan anda tidak pernah menyebar uang secara berlebih.

Menjadi miskin jelas bukan pilihan. Jika memang memungkinkan semua orang pasti akan meminta pada sang Khalik agar hidup berkecukupan, meski gak berlebih loh. Disisi lain, mereka yang berlebih pun tidak wajib untuk meluangkan perhatiannya pada mereka yang kekurangan. Karena itu juga adalah pilihan. Semua kembali pada kebaikan hati dan rasa bersyukur.

Situasi yang dihadapi pasangan dari Jepara itu mungkin masih belum akan berakhir dalam waktu dekat. Pihak berwajib masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan apakah benar keenam putra-putri pasangan itu meninggal akibat keracunan tiwul yang dibuatnya dengan menggabungkan singkong, campuran air kelapa dan pemanis.

Dengan kata lain, Siti masih harus terus mengingat bagaimana dia meracik tiwul tersebut, hingga menyebabkan akhir yang tragis. Depresi merupakan respon yang wajar tidak peduli Siti berpendidikan atau tidak, kaya atau miskin. Saya sendiri tidak bisa membayangkan jika – baik sengaja atau tidak – tindakan saya menyebabkan hilangnya nyawa sanak saudara saya.

Dalam kasus ini Siti tidak sengaja menyebabkan anak-anaknya meninggal dunia. Tetapi, masih ingat dengan kasus Khoir Umi Latifah yang membakar dua anak balitanya karena alasan tekanan ekonomi.

Ratusan juta penduduk Republik ini dan menjamin kesejahteraan masing-masing penduduk jelas bukan hal mudah. Tetapi, apa benar pemerintah atau masyarakat benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah insiden-insiden semacam ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s