Yuks belajar…

Taukah kamu bahwa garam pernah menjadi komoditi utama di Laut Tengah. Emas putih yang punya dampak besar terhadap iklim ini jugalah yang mendorong perjalanan bangsa Italia ke seluruh penjuru dunia.

Ratusan tahun silam, Venesia pun pernah menjadi kota terkaya dunia karena perdagangan garam. Itu menjelaskan mengapa letak garam di meja makan menjadi salah satu penanda status sosial. Bangunan-bangunan megah yang berdiri di Venesia juga merupakan peninggalan dari masa kejayaan garam.

Perubahan iklim drastis yang juga dipicu oleh garam melenyapkan semua itu dan mendorong bangsa Venisia untuk menemukan komoditi baru yang bisa diperdagangkan. Dan perjalanan mereka ke seluruh penjuru dunia, termasuk Asia memperkenalkan mereka pada komoditi yang lain, rempah-rempah. Bumbu-bumbu ajaib yang juga menjadi alasan penjajahan Belanda atas negeri ini.

Kekayaan alam bisa membawa kejayaan dan pada tingkat berikutnya dipastikan akan membawa kehancuran. Salah satu penyebabnya adalah keserakahan yang memang menjadi salah satu ciri khas manusia.

Meniliklah kebelakang maka akan kita jumpai peperangan yang menghancurkan sebagian besar bangsa di Laut Tengah dipicu oleh perebutan garam sebagai komoditi yang paling menggiurkan ratusan tahun silam. Rempah yang menjadi kekayaan kita yang terbesar menjadikan kita terjajah selama 350 tahun bahkan masih menyisakan beberapa permasalahan hingga saat ini.

Kita sangat kaya akan keragaman budaya hingga kesulitan untuk mengenalinya satu-persatu dan baru meributkannya ketika diakui bangsa lain. Ada Irian dengan kekusutan yang terpicu dari kekayaan tambangnya. Jakarta dengan kebanggaannya sebagai metropolis yang penuh dengan gedung-gedung bertingkat dan pembangunan modern lainnya namun melupakan pentinngnya daerah resapan.

Saya pun mulai tertarik untuk berfikir bencana yang menimpa beberapa wilayah di negeri ini terjadi karena memang itulah kekayaan terbesar kita. Wilayah yang luar biasa dari Sabang sampai Merauke. Apakah 5 abad dari sekarang sejarah akan bercerita, Indonesia dengan kekayaan masing-masing pulaunya lebur karena tsunami, gunung meletus, banjir, gempa atau lainnya.

Semua sibuk saling menyalahkan, tapi tidak pernah bertanya apa yang bisa aku lakukan dengan tanganku, minimal. Bukankah beberapa hal masih bisa diupayakan, ehm, bersama. Nah, yang paling sulit adalah ketika yang terucap, “Bukan urusan gue…!”

Ya wes,mending kita cari selamet masing-masing aja deh… he he he…

***
Menarik senar gitar terlalu kencang bisa putus, terlalu kendor juga gak bisa dipake, nah gimana coba menghasilkan setting-an yang pas… Tapi ya tetep aja susah kalau masing-masing masih melihat dari kacamata bahwa semua orang kan punya tolak ukur yang beda soal pas… Ini sih dah gak tertolong…yang dicari bedanya teruuussss…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s