Menghayalkan Utopia…

Berita seorang nenek yang harus mendekam tiga bulan di penjara karena mencuri dua permen dan makanan ringan untuk mengganjal perutnya yang lapar menarik perhatian saya. Jaksa pun mendakwanya dengan empat bulan hukuman penjara, artinya kalau dikabulkan oleh majelis, sang nenek masih harus menghabiskan satu bulan lagi didalam bui.

Dari sisi hukum, tindakan si nenek memang tidak dibenarkan sehingga hukuman yang nantinya akan dijatuhkan pun mungkin layak dia terima. Jaksa dengan berbekal KUHP pun tentunya tidak akan enggan untuk mendakwanya dengan hukuman penjara.

Namun, mari kita menelaah dari sisi yang berbeda.

Tatanan masyarakat yang sempurna seperti yang diimajinasikan Thomas Moore lewat Utopia-nya memang tidak akan ada. Ditilik dari beberapa bahasa, “Utopia” sendiri pun diartikan sebagai “no-place-land” atau tempat yang tidak pernah ada.

Lalu, apakah menjadi alasan untuk bergesernya keyakinan dalam masyarakat kita akan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian. “Ah, ngomong apa sih kamu ti,” ujar seorang teman pagi ini.

Aksi nakal nenek itu bukankah juga disebabkan oleh kegagalan pemerintah dalam menyuguhkan kesejahteraan bagi masyakarat sebagaimana diselipkan dalam UUD. Toh, saya yakin sebagian besar masyarakat kita tidak menterjemahkan sejahtera sebagai kaya raya dan berlimang harta. Yah, setidaknya untuk mendekam empat bulan di penjara butuh lebih dari 2 permen dan sebungkus makanan ringan.

Saya tidak bermaksud sepenuhnya meletakkan tanggung jawab dipundak pemerintah, karena jelas ada yang salah dengan kesadaran dalam masyarakat kita saat ini. Bukankah sudah banyak film bertajuk religi yang menyelipkan pesan agar peduli dengan sekeliling, lihat apakah tetanggamu sudah makan hari ini ketika anda memasukkan dua kantong makanan sisa ke tempat sampah.

Sepertinya masih diperlukan alasan yang lebih kuat dari sekedar kemanusiaan untuk mengulurkan tangan saat ini. Sorotan kamera nampaknya akan jauh lebih beralasan.

Meski Utopia hanya khayalan Moore, ada beberapa hal masih bisa dijadikan renungan.

Moore menggambarkan Utopia sebagai sebuah pulau kecil dengan hanya 54 kota dan 6 ribu kepala rumah tangga. Ibukotanya ada di pusat pulau. Tidak adanya privatisasi kepemilikan di Utopia memang menjadikannya sebagai imajinasi yang mustahil.

Pemikiran yang mustahil tetapi layak untuk diimajinasikan. Tanpa privatisasi, persediaan tersimpan dalam gudang milik bersama dan warga bisa meminta bahan-bahan yang mereka perlukan. Tidak ada pengamanan brankas atau sekedar kunci yang menggantung dipintu. Pertanian muncul sebagai pekerjaan yang terpenting di Utopia.

Ini bagian yang saya suka, setiap warga diajarkan dan diwajibkan untuk tinggal dipedesaan, setidaknya selama dua tahun dan kesetaraan tanggung jawab pekerjaan antara perempuan dan laki-laki.

Dengan tidak adanya pengangguran, rentang waktu bekerja pun bisa diminimalnya dengan hanya 6 jam dalam sehari. Ehm kalau yang satu ini aplikasinya sudah umum saya rasa malah kurang.

Moore memang imajinator yang menawan. Moore tidak lupa menggambarkan para cendekia di Utopia. Para cendekia diijinkan untuk menjadi pejabat pemerintah atau pendeta. Tetapi saya tidak akan membahas banyak untuk hal yang satu ini.

Yang menarik, perbudakan tetap ada di Utopia dan diceritakan setiap rumah diperbolehkan untuk memiliki dua orang budak yang berasal dari negara lain atau para kriminal di Utopia sendiri. Rantai yang dipasangkan pada tangan dan kaki mereka digambarkan terbuat dari emas. Para budak bisa dibebaskan dengan alasan berkelakuan baik.

Asset atau kekayaan di Utopia tidak lagi menjadi penting karena hanya digunakan untuk membeli komoditi dari negara asing.

Inovasi yang paling menggagumkan dari Utopia adalah rumah sakit gratis, penggunaan obat penenang tidak diatur negara, seks diluar pernikahan dijatuhi hukuman seumur hidup atau dipaksa membujang [bayangkan!!!] dan tindak pelecehan seksual dihadiahi status sebagai budak.

Anehnya, beberapa hal dalam karya Moore ini sangat bertentangan dengan keyakinannya sendiri yang notabene adalah seorang Katolik yang taat. Tentu saja, menjadikan Utopia sebagai satir dan lelucon yang menghibur ketika Moore berusaha menggambarkan tingkat kejujuran warga yang luar biasa.

Nah, silahkan berpersepsi sendiri…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s