Filosofi Sutinah

Jumat pekan kedua Oktober, akhirnya aku sampai pada limitku. Sepertinya kedua kakiku tidak lagi mampu menopang tubuhku. Jatuh…akhirnya aku jatuh. Namun, rasanya tidak hanya tubuhku yang ambruk semalam.

Masih kuingat perempuan itu bercerita. 5 tahun, tidak, kurasa kurang dari itu jarak yang memisahkan kami. Bangku pendidikan sekolah menengah pertama pun tidak sempat dia rasakan, tetapi tuturnya tentang kehidupan membuatku merasa malu. Andai, setengah saja dari keberaniannya kumiliki. Keberanian yang luar biasa, pikirku sepanjang akhir pekan ini yang terpaksa kuhabiskan di rumah.

Sebut saja namanya Sutinah. Benar, dia hanya menamatkan sekolah dasar. Itupun harus dia wujudkan dengan berjualan jengkol yang sekalian dia gunakan untuk menghidupi neneknya. Kedua orang tuanya di kampung tidak sanggup memberinya pendidikan atau kehidupan yang layak. Jajan, itu termasuk barang mewah baginya.

Entah kenapa nasib baik belum berpihak padanya. Pernikahannya pun tidak berakhir baik. Dia terpasung menghidupi suaminya dengan bekerja di pabrik sepatu yang menggajinya tidak lebih dari 700 ribu per bulan. Keberanian yang kurasa lahir dari pengalaman hidupnya membuatnya meninggalkan sang suami beserta anak semata wayangnya. Cita-citanya adalah menyekolahkan anaknya.Dan dia berhasil.

Namun, dengan terpaksa dia kirimkan putera yang berusia 8 itu ke kampung tempat kedua orang tuanya. Alasannnya sederhana, dia khawatir apakah anaknya makan dengan benar ketika kini dia bekerja sebagai pembantu tidak tetap dibeberapa rumah yang letaknya jelas tidak berdekatan. Atau ketika dia terpaksa menawarkan tenaga di pasar klender kepada para pedagang. Bayangkan besar upah yang dia terima setelah membantu sepanjang malam.

Kini, dia harus bisa mengirimkan setiap sen uangnya untuk kehidupan anaknya di kampong plus tuntutan kedua orang tuanya untuk segera ‘menikah lagi’ agar ada laki-laki yang mau memperbaiki rumah mereka di kampung.

Bagian yang paling luar biasa adalah dia tidak mengeluh. Tidak ada sedikitpun rasa malu, justru kebanggaan yang sangat kuat sangat terasa saat aku duduk berhadapan dengannya malam itu. Seperti halnya aku yang antusias mendengar dia bercerita, berharap dia mau bertutur lebih banyak.

Sutinah bukan perempuan lemah yang kerap mengeluh akan hidupnya dan memilih pasrah. Dia berjuang untuk kehidupan yang lebih baik, berani mengambil keputusan yang aku ragu menjadi pilihan banyak perempuan diluar sana.

Dia cerdas, sayang keberuntungan tidak berpihak padanya. Dia menghentakku saat mengajarkanku untuk bersyukur akan pendidikan dan semua yang kumiliki dan melangkah maju apapun konsekuensinya.

Sutinah memperlihatkanku garis yang jelas antara tetap diam dan mengambil tindakan. Bahwa hidup layak diperjuangkan. Malam itu aku tertunduk malu namun bangga bisa duduk berdekatan dengan seorang perempuan perkasa.

Dan kunantikan perjumpaan berikutnya dengan Sutinah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s