Bebas tanpa batas

Mereka yang enggan menyandangi dunia fiksi, khayalan dan impian mungkin tidak pernah benar-benar merasakan kebebasan. Karena tanpa sadar kita semua terikat pada sesuatu. Sistem, aturan, norma, batasan atau yang melibatkan rasa seperti takut misalnya. Wujudnya bisa apa saja, yang pasti akan membuat kita seolah diam terpaku. Kerap mengatakan mengikuti alur nasib, takdir atau bersikukuh bahwa ini adalah realitas.

Kabarnya menghabiskan malam-malam panjang dibalik jeruji besi dimaknai sebagai terkurung. Lalu muncul berbagai sanggahan bahwa hanya jeruji hanya bisa mengurung fisik tetapi tidak pikiran. Bahwa pikiran manusia adalah satu-satunya yang tidak bisa dikurung, bebas untuk pergi kemana saja, tanpa batas.

Sayang, sepertinya jaman sudah berubah. Belakangan kita memenjarakan diri dengan kerap menggemakan kata mustahil yang variasinya mulai sangat menakjubkan. Kalimat-kalimat seperti, “Jangan bermimpi, karena saat terbangun pasti tidak mengenakan atau lihat kenyataan, gak mungkin cuy!”

Mungkin yang paling tahu rasanya bebas adalah para penulis, pencipta, pengarang, sutradara, mereka yang kerap berusaha mewujudkan hal-hal yang berawal dari sekedar bayangan atau khayalan. Membumbui kisah-kisah nyata agar bisa disugguhkan dengan tampilan yang lebih menawan.

Mereka yang kerap menyandangi dunia yang benar-benar bebas dan tetap hadir sebagai sosok di dunia nyata. Menciptakan inovasi yang lahir dari sekedar sketsa, cita-cita, angan-angan, impian dan semua yang berbau mustahil. Tetapi bukankah itu kebebasan?

Jika saja 1000 orang dari generasiku tidak mengikat diri mereka pada rasa takut, mungkin akan lahir 1000 harapan baru yang lahir dari mimpi-mimpi akan masa depan yang lebih baik. Ketakutan akan terikat pada sistem, idealism mereka sendiri atau kalah dalam pertempuran yang bahkan belum terjadi. Antisipasi ataukah penyelamatan atas diri sendiri dengan tanpa sadar mengesampingkan generasi-generasi yang akan datang.

Bayangkan satu tim sepakbola. Bukankah ada 11 pemain dengan tanggung jawabnya masing-masing, bahkan dilengkapi dengan peraturan yang mengikat masing-masing. Tetapi tidak ada satupun yang memutuskan untuk batal bermain karena takut akan semua itu. Artinya bukannya semua ada fungsi dan maknanya masing-masing. Karena itu adalah saat pembelajaran.

Namun, mereka bebas saat mereka memilih untuk tinggal, memilih untuk bermain dimana saja, memilih menjadi apa saja, mulai dari pelatih hingga pemilik satu tim kesebelasan. Menyisakan ruang bagi tekad, keinginan dan usaha untuk sampai pada titik dimana tidak ada yang mustahil ketika kita percaya, membebaskan pikiran dari ikatan-ikatan yang kita ciptakan.

Lalu kenapa jika kita jatuh, bukankah itu proses. Gunakan dua tanganmu untuk bangkit dan nikmati kebebasan untuk mewujudkan apapun yang kau inginkan. Asal jangan menguasai dunia aja. Maaf, belum pernah ada yang berhasil, Napoleon dan Hitler bisa jadi contoh. Coba aplikasikan untuk merancang kegembiran bagi yang lain, sosok-sosok yang ada disekeliling kita. Dijamin, pasti berhasil!

Bukan mengalah untuk menang sayang, tapi membebaskan pikiran dari ikatan. Rasanya itu yang belakangan tidak pernah diajarkan di sekolah. Label-label perguruan tinggi belakangan pun “cepat dapat kerja.” Apa tujuan setidaknya 12 tahun duduk dibangku sekolahan, lebih kalau yang beruntung, cuma itu?

Lalu, kenapa selepas balita banyak orang tua yang menanyakan cita-cita anak-anaknya jika kala menitik bangku SMA diingatkan untuk memilih pendidikan yang pas buat masa depan. Tidak jarang kan yang berkata, “Mo jadi apa kalau lulus, gak bisa buat masa depan.” Yang lebih keren lagi, “Jangan, gak menghasilkan!” Lucu ah!!!

Sedikit kali ya yang bilang, “Tekuni, tunjukin keseriusanmu. Kita lihat sampai mana kakimu melangkah.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s