Hidup harus punya mimpi

Tag status yang diposting salah satu koncoku menarik perhatianku hari ini. Katanya hidup itu harus punya mimpi. Bagaimana tidak, beberapa hari terakhir ini otakku dipenuhi dengan rekaman-rekaman kejadian yang kerap menekankan tentang mimpi, bahwa kita harus punya mimpi untuk menjadikan hidup lebih berarti.

Pagi ini pas sahur pun aku kembali disuguhi tayangan ulang tentang sejarah rythim and blue alias black music di negeri paman sam. Yang menarik adalah paparan Ray Charles yang menjadi salah satu pentolan genre musik yang muncul dari gencetan rasisme yang menguat sekitar tahun 1950an itu. Seorang penyanyi buta yang mampu membuat gebrakan setelah disadarkan dengan insiden ditinggalkan seorang diri ditengah jalan oleh salah seorang warga kulit putih.

Paling mengena adalah kata-kata yang dilontarkan sang musisi legendaris itu, “Jadilah diri sendiri tapi jangan berharap semua orang akan menyukaimu.” Menurut paparan Ray [gw mulai sok akrab] kalimat itu dilontarkan ibunya yang tegas menolak anaknya terkekang oleh tekanan pada jaman itu.

Yang menarik adalah dia adalah salah satu orang yang mengharapkan perubahan bagi kaumnya. Maklum pada jaman itu bangsa kulit hitam baru saja keluar dari masa-masa gelap perbudakan. Meski perbudakan dihapus tapi penolakan terhadap bangsa keturunan Afrika itu masih sangat kentara.

Tontonan berdurasi lebih satu jam itu mengingatkanku pada obrolan dengan dinda [yang kerap menolak dipanggil dinda]. Bahwa ketika tidak ada gerak alias segala sesuatunya ditekan sehingga tidak menyisakan ruang untuk mengutarakan pendapat maka seni akan muncul sebagai solusi.

Musik hitam begitu terjemahannya menurut bahasa muncul sebagai wujud komunikasi dari kaum kulit hitam kala itu. Kaum yang kala itu memimpikan disejajarkan dan didengar segala penderitaannya.

Kembali ke era abad 21. Mimpi, kata sederhana yang bisa membawa manusia menembus kemustahilan, memberikan alasan untuk terus tersenyum dan menyongsong esok yang penuh harap.

Sayang, mimpi harus dibarengi dengan optimisme dan tekad yang luar biasa. Mungkin itu yang belakangan dilupakan banyak orang, termasuk aku. Takut jatuh atau perlunya alasan untuk melangkah maju kerap menjadi alasan yang menari dalam kepalaku.

Nah, ditengah semua itu mungkin aku ingin bersyukur karena belakangan banyak yang kerap mengingatkanku akan asiknya memiliki mimpi meski yang paling sederhana. Sosok-sosok lebih muda dariku mengingatkanku menakjubkannya mempunya impian. Salah satu contohnya, seseorang yang kerap memimpikan perubahan meski tangannya sangat terbatas dalam menggapai.

Salut dimana dia menyadari tidak banyak yang bisa dia perbuat namun tidak menghentikan langkahnya dalam berusaha mencapai semuanya. Menantikan halte-halte yang akan menjadi perberhentiannya untuk mengumpulkan bekal dalam perjalanannya yang bakal penuh dengan tanjakan dan bebatuan. Semangaat ya non…

Lastly, terima kasih buat mereka yang masih mau bermimpi. Ehm…kalau si Wright bersaudara tidak pernah memimpikan manusia terbang menembus angkasa mungkin hingga saat ini teknologi jet tidak akan pernah tercipta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s