Mencari adil di Bumi [two]

Belum pernah kurasakan langkah seringan hari ini. Ntah darimana kudapat keberanian untuk meneruskan semua kekusutan yang ada. Hampir setiap pekan kuhabiskan setengah waktuku di gedung pengadilan bercat putih itu.

Belum pernah aku merasa selelah ini. Aneh, tapi sepertinya Dia memberikan kelapangan yang kuminta sejak sepekan lalu. Harapanku tidak terwujud, tetapi tampaknya Dia menghadiahkanku ketenangan yang luar biasa dalam menghadapi semuanya. Untuk itu aku sangat bersyukur.

Cerita singkat bertajuk keadilan itu akhirnya sampai pada babak akhir. Pertanyaannya adalah apakah aku akan berhenti disini atau melanjutkan keyakinanku. Naif, katakan saja aku naïf karena mengharapkan kebenaran dan keyakinan saja akan cukup untuk menghantarkanku pada kemenangan.

Stupid as it may sound yet I’m grateful for all of this. Voucher keberanian itu sangat mahal. Aku ingat pernah berujar pada seorang teman bahwa dikala benarpun aku tidak punya keberanian untuk membela hakku apalagi pas salah. Dan dititik ini aku terdiam, untuk memikirkan langkah selanjutnya.

Aku ingat dua pekan lalu bertemu dengan seseorang di sana yang mengajarkanku untuk mengikhlaskan semua jika ternyata putusan itu tidak memihak padaku. “[bahwa] Dia pasti akan memberikan ganti yang sepadan,” ingatku.

“Aku lelah,” gumanku disepanjang jalan menuju rumah. Berhenti atau terus, hanya itu opsinya. Pembahasan dengan beberapa teman menghasilkan pemikiran yang beragam. Seorang sobat pernah menyarankanku untuk berhenti karena dia tahu apa yang harus ku lewati. “Elo bukan super woman,” tegasnya kala itu.

Heran, kenapa aku begitu yakin hari ini. Yakin kalah? [hahaha], gak juga. Sebenarnya, aku yakin akan menang dalam masalah ini. Yang lebih mengherankan lagi, kenapa aku merasa menang meski semua gugatanku dinyatakan ditolak.

***
Kurasakan suaraku bergetar saat membacakan poin-poin kesimpulan dua pekan lalu. Beberapa sidang kasus sebelumnya yang sempat membuatku menahan tawa geli tiba-tiba hilang dari ingatanku. Tapi mengingat hasil hari ini, tampaknya itu tidak cukup.

Setelah keluar dari gedung putih itu, seorang pria setengah baya menemuiku dan menyatakan siap membantu. “Satu lagi pelobi,” gumanku dalam hati.

Sayang dia datang terlambat. Kalau saja dia menemuiku beberapa bulan lalu sebelum semua ini memuncak pasti aku akan percaya semua kata-katanya saat dia mengatakan siap membantu untuk mengembalikan hakku dari perusahaan leasing itu.

Sial! Kenapa di gedung bertajuk pengadilan itu banyak sekali wajah-wajah semacam itu. Mereka yang berkoar siap membela hak yang lain pahadal yang mereka inginkan adalah persentase bagian.

Akankah ada momen dimana mereka yang benar bisa terlihat dan punya suara. Tapi setelah dipikir siapa yang bisa membedakan antara benar dan salah. Semua toh sama saja, cuma Tuhan yang tau. Sayangnya, sang hakim hanyalah manusia biasa, setengah dewa aja gak sampe. Mak!! Kenapa aku jadi apatis gini ya!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s