Mencari adil di Bumi [one]

Jika Dia berkehendak tentunya sangat mudah menjadikan keadilan di bumi sebagai keadilanNya. Tapi Dia justru menghadiahi manusia dengan nurani dan akal untuk menentukan alur dari keadilan di bumi. Meskipun cerita ini belum berakhir, aku percaya semua terjadi atas kehendakNya.

***
Kukumpulkan semua keberanian untuk memasuki gedung bercat putih itu. Gedung bertajuk pengadilan yang menawarkan bentuk keadilan di bumi. “Ini tidak akan mudah,” ujarku dalam hati sebelum memutuskan berangkat menerobos hujan yang mengguyur.

Semua berawal saat kuputuskan untuk menuntut secuil hak orang tuaku. Masukan dari teman, kerabat, riset internet, buku-buku sampai artikel mengenai kasus-kasus legal menguatkan langkahku.

People said that nothing comes easy when you’re doing the right thing. Itu benar. Kepercayaan yang kulimpahkan pada sosok yang kukenal dari referensi seorang teman ternyata berakhir bencana. Kerja sama yang terjalin berlandaskan itikad baik itu akhirnya kandas juga.

Kecurigaanku yang muncul dari insiden kecil yang tidak disengaja semakin menguat. Sayangnya keberanianku tidak cukup untuk memaparkan semua kebusukan itu hingga akhirnya meruncing dan menghempaskan semua. Mengacaukan niatku, mengubah prinsipku dan keyakinanku.

Tuntutanku sederhana, apa yang memang menjadi hakku, nilai yang bahkan tidak mencapai 20juta rupiah. Konsekuensi menerima setengahnya pun sudah siap kuterima, toh aku tidak berfikir semua jasa itu akan gratis.

Ternyata kemudahan tidak berpihak padaku. Kepercayaanku dimanfaatkan, gugatan luar biasa pun terancang karena awalnya aku menganggap mereka cukup bijak dan tidak akan berubah menjadi sosok-sosok serakah mengingat landasanku cukup kuat dan benar. Lebih dari 10 kali lipat dari yang kuminta. Pikirku, “bodo amat, toh aku cuma ingin hakku, biar aja nanti mereka ambil sisanya. Asalkan mereka bekerja dengan maksimal.”

Kebodohanku berikutnya, aku bagai atm berjalan bagi orang-orang yang bersikeras mengatakan membela hakku. Kecurigaan kumasukkan dalam koper dengan kunci yang kulempar ke dasar sumur.

Tuhan memang maha bijaksana. Dia berikan insiden kecil yang memunculkan kecurigaanku. Sedikit agak terlambat [hahaha] atau malah terlambat sekaleee. Tapi, untuk melucuti semua ke-brengsek-kan itu aku tidak cukup berani for some reasons. “Dodol!!! Apa yang paling lo takutin,” ujar seorang teman yang memang jauh lebih dewasa dariku.

Semua itu menggiringku untuk menginjakkan kaki ke pengadilan untuk pertama kalinya dalam hidupku. “Catnya putih,” gumanku dua minggu lalu, saat klimaks dari semua kerumitan yang kualami.

***
Hari ini jauh lebih menarik. Dia ada disana, memperlihatkanku pada kebesaranNya dan hal-hal yang hanya bisa terjadi atas kehendakNya.

Aku datang saat gedung belum dipenuhi oleh para praktisi hukum, klien atau para petugas pengadilan. Setelah bertanya ke beberapa orang, aku tahu siapa yang harus kutemui. Pria setengah baya dengan tampang kurang mengenakkan hati [kata ade gw].

“Damn! Pagi-pagi gw udah dilobi!”

Kalau ingat percakapan singkat dilantai dua dengan bapak X itu rasanya kalimat itu selalu terlontar. “…kira-kira berani kasih berapa? Anggep aja uang terima kasih,” tutur om X dengan tampang licik bin kurang ajar [hahaha].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s