satu lagi celotehku

“Form a distance I watched the man dragged the little boy. I saw lots of fears in his eyes. I watched him fought the man with all his strength. Too bad, it was useless. That man was more than twice his size. All I can do just watched from the distance. The fact that I’m not alone didn’t make me proud either or even feel better.”

***
Rasanya terminal lebih dingin malam ini. Apa kamu juga merasa begitu kak? Hampir jam 9 malem dan uang yang ku peroleh masih belum cukup. Untung kakak disini, menemaniku tetapi tidak cukup untuk membuatku merasa lebih baik. Ini minggu pertamaku, dipekerjaan pertamaku. Aku masih merasa takut kak.

Barusan kulihat anak laki-laki itu diseret sosok laki-laki yang sangat menyeramkan. Yang lebih hebat lagi setiap orang yang melewati keduanya nampak bersikap “biasa aja.” Sama halnya seperti para penumpang angkot lainnya.

Kak, aku mau pulang. Aku takut. Tapi masih ada dua angkot tersisa malam ini. Aku harus menyanyi sedikit lagi. Usiaku baru lima tahun. Ada rasa iri saat melihat anak lain seusiaku digandeng kakak atau ibunya saat diangkot. Bukan baju bagusnya, bukan pula sandal yang pakai. Dia gak perlu ngamen, itu yang membuat aku iri.

Terkadang tercetus pemikiran, label kakak yang kau sandang karena kita berbagi darah yang sama gak membuatmu berhak mengajakku keluar sepanjang hari, melupakan tanggung jawab mengajariku tentang harapan, impian dan cita2.

Sebutan orang tua yang kalian terima kerena melahirkanku tidak memberikan kalian hak tuk membiarkanku bertelanjang kaki sepanjang hari, melepaskan nada-nada sumbang dan mengumpulkan recehan2 belas kasihan orang.

***
Sial! Mo jadi apa republik tercinta ini. Tadi siang jalan2 menuju kantor padet-maredet, dipenuhi mereka yang menuju arena kampanye salah satu kandidat presiden berikutnya. Pulang kantor, setelah makan malem diluar bareng ade gw, gw masih disuguhin acara debat cawapres.

Para elit politik sedang sibuk berebut meraih posisi nomor satu negara ini. Janji kehidupan yang lebih baik bukan lagi hal yang aneh belakangan ini, sampe2 sulit rasanya beda-in yang truly and sincere sama yang basa-basi doank.

Milih satu bukan hal yang sulit, toh semuanya menjanjikan masa depan yang lebih baik, cuma caranya aja yang beda and mungkin dengan kecepatan yang beda pula.

Yang gw ragu, kira2 siapa ya yang bisa ngubah alur cerita si adik kecil itu. Rasanya jumlah teman2 adik kecil itu semakin banyak setiap harinya. Mungkin akar permasalahannya bukan sedekar sekolah gratis. Ngerahin satpol PP buat bersihin Jakarta yang metropolitan ini juga bukan salah satu solusi. Jangan2 karena gratis nilainya justru berkurang. Agak kurang dihargai. Hal kaya getoo kan biasa.

Bukannya dulu sekolah gak ada buku? Bahkan guru esde gw, Pa Saeran, setiap Sabtu sering bercerita ke sekolah cuma bawa sabak. Tapi dia berhasil, sukses, mencetak banyak orang2 sukses [gw merasa jadi salah satunya].

Terus apa yang bergeser? Budaya? Sopan-santun? Tepo seliro? Seribu satu ciri khas timur yang mulai terkikis. Pa Saeran juga sering menyisipkan cerita pewayangan pas ngajar dengan gayanya yang khas. Sepele, tapi gw jadi kenal beberapa tokoh and aksi kepahlawanan mereka. Diingetin lagi ma Mas Gothe beberapa pekan lalu lewat buku wayang yang dia pinjemin.

Heran, orang2 Jakarta sekarang klo ngeliat aksi preman kaya diatas cueks2 aja. Mulai kaya hidup di Barat. Klo berinternet and ngikutin perkembangan teknologi serta ilmu pengetahuan seperti Barat seh gpp.

Sekarang ngeliat ibu2 berdiri keringetan di angkot or kerepotan nenteng tas super gede di busway, anak2 muda n cowo2 ganteng justru duduk semakin nyaman. Ada yang teriak copet, pura2 gak denger. Pas dah lewat baru bilang, “emang dari tadi tuh mba dah ngincer kayanya, disini emang harus ati2,” ooollllaaahh, taaapppyee deh. Tapi masih ada koq beberapa pemuda/i biasa2 aja yang ringan tangan.

***
Inget waktu masih ngajar. Lebih dari setengah murid2 gw gak punya cita2. Gak punya semangat belajar, gampang patah semangat, pengennya cara cepaaat terus biar bisa lulus n klo bisa dapet nilai memuaskan. Gw pernah asal ngomong, “ke dukun aja, minta resep biar lulus UN.” Yang bikin gw ketawa ada yang jawab, “dukunnya juga gak mau miss klo kita gak usaha.” Wakakkakakka, ternyata mereka bisa mikir sampe disitu juga.

Gw pernah bilang ma murid gw, tangan kalian kecil, gak bisa meraup semuanya. Jadi tentuin pilihan, genggam apa yang bisa kalian pegang dulu. Punya cita2 dunkz, coz itu yang bedain kalian satu sama lain. Impian ma harapan itu perlu dibangun say.

”Klo jatoh sakit miss,” celetukan yang dah sering gw denger. Gak mau kalah dunk gw, ya bangun lagi, mana ada bayi langsung lari. Sabar kale. Say, sebelum si Wright bersaudara nemuin pesawat, mana ada yang percaya manusia bisa terbang. Menang gak gw? Iya, tapi sayang cuma bertahan sampe bel pulang [wakakakakaka].

Om dan tante calon pemimpin tolong dunks generasi muda ini ikut diarahkan, jangan diajak kampanye doank. Abis pemilu, abis juga pengarahan. Si adik kecil tadi juga cape ngamen terus and orang-orang tua yang kurang ajar plus gak bertanggung jawab, ngirimin tangan2 kecilnya buat ngais rejeki itu perlu diarahkan juga. Dibina atau binasakan?? [huehehehe].

Yah, berharap kaya diluar negeri dimana anak2 langsung diambil negara juga gak mungkin. Masalahnya, siapa yang mo ngurus? Depsos? Gaaakkk mungkin!! Or ikutin aja lagu mbah surip, bolee…bole…bole. Bikin anggaran tambahan deh, kan lumayan lubang korupsi baru. Hahahahaha.

Hmmm…seru juga seh!!! Coz klo dipikir2 beberapa tahun kedepan negara ini bakal dipenuhi artis2 penyanyi berpengalaman. Siapa tau banyak yang bisa go internasional, jadi bukan skill pembantu terus yang dikirim ke kancah dunia. Gak ada pilihan laen nih kayanya selain ngasih semangat ke adik kecil itu. Semangat dik, harumkan nama bangsa beberapa dekade nanti!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s